Sejarah Pecinan Negeri Aceh
Pecinan Aceh, kampong (desa) dunia. Mungkin ini juga berkorelasi dengan akronim ACEH – Arab, Cina , Eropa, dan Hindi. Sebab cacatan sejarah, wilayah Aceh menjadi tempat pertemuan pedagang dari berbagai negeri. Seperti ditulis Denys Lombard dengan mengutip tentang sejarah raja-raja Cina, dinukilnya dalam Aceh Jaman Sultan Iskandar Muda.

Orang Cina menyebut Aceh dengan kata A-ts’i. Ketika tahun 1405, seorang laksamana negeri Tiongkok, Zheng He-yang kita kenal Cheng Ho, melakukan ekspedisi. Dia tangan kanan kaisar Yongle, kaisar ketiga Dinasti Ming. Lalu, ada catatan tentang Cheng Ho yang datang ke Aceh dengan membawa armada raksasa, 62 kapal besar dan belasan kapal kecil berawak 27.800 orang.

Cheng Ho berada di kapal berlambung besar bernama Pusaka. Ini kapal terbesar di abad itu. Panjang 138 meter, lebar 18 meter, dan berbobot hingga 2.500 ton. Rombongan laksamana itu berangkat seusai shalat di sebuah masjid tua di kota Quanzhou, provinsi Fujian, langsung menuju pulau dan negeri-negeri di Asia Tenggara, tibalah di A-ts’I, Samudera Pasai. Sebagai oleh - oleh diberilkanlah sebuah genta raksasa — genta besi dinamai Cakra Donya. Bermula dari sini hubungan kedua bangsa, sama - sama berdagang menjual porselen, kertas, tembakau, teh, dan lada sejak abad ke-17.

Cakra Donya ditabalkan pada nama kapal Sultan Iskandar Muda yang genta raksasa digantung di buritannya ketika bertempur dengan pasukan Portugis di Malaka. Menang dalam pertempuran, Cakra Donya dipindahkan ke dekat Masjid Raya Baiturrahman. Genta setinggi 1,25 meter dengan diameter 1 meter yang berukit tulisan Arab dan Cina.

Peunayong kampung cina menjadi Pacinan Aceh masa lalu. Maka memandang Peunayong, bagaimana mengapreasi – atau mereduksi ulang “bingkai” gambar masa lalu; mengingat lagi Landmark Aceh yang tetap pada langgam sama seperti masa lalunya, seperti cerita “Taman Gairah” dalam dua kultur yang berurat - rurat dan melekat dalam satu ikon Peunayong. Taman Gairah, sebuah taman tempat bercengkerama keluarga sultan yang di dalam taman itu telah dibangun “Balai Cina” (paviliun) yang dibuat oleh para pekerja Cina.

Bermula di Peunayong, Aceh menjadi kampong dunia. Karena di kawasan ini bersatunya bangsa-bangsa dari Arab, Persia, Pegu, Gujarat, Turki, Bengali, Tionghoa, Siam, dan Eropa. Ia pun tumbuh menjadi cosmopolitan yang berkarakter multietnis. Kapal - kapal (jung) Cina membawa beras ke Aceh. Mereka tinggal dalam perkampungan Cina di ujung kota dekat pelabuhan. Rumah mereka berdekatan satu sama lainnya dan mereka menurunkan barangnya di pelabuhan itu dari kapal untuk selanjutnya didistribusikan. Lokasi tempat menurunkan barang tersebut kini dikenal sebagai Peunayong.

Peunayong adalah bagian dari wilayah kota tua Banda Aceh yang didesain Belanda sebagai Chinezen Kamp alias Pecinan. Dulu di Peunayong, sepanjang hari, ubahnya seperti kawasan Glodok di Jakarta, atau Petaling Jaya di Kuala Lumpur, Malaysia. Pedagang Cina dan warga asli Aceh berbaur dengan pengunjung pasar yang didominasi warga Cina. Suasana kedai kopi pun tampak dipenuhi generasi tua masyarakat Cina yang mengenakan kaus sederhana, menikmati kopi, menghisap rokok, sambil bercakap dalam bahasa Hakka Kwantung, Hok Kian, Hai Nan dan Kong Hu atau dalam dialek khe diselingi bahasa Mandarin kental Acehya…

Karenanya duduk di cafe - cafe kecil, mengisi malam di Peunayong, adalah menerawang pada kisah disebaliknya. Peunayong bukan sekedar pasar, meski konotasi itu melekat pada Peunayong. Tapi mendambakan rupa Peunayong seperti masa raja-raja tempo dulu dalam laman buku tua, Sultan Iskandar Muda, Peunayong adalah sebuah situs besar, “taman gairah”. Kenapa sebutannya begitu indah dan eksotis? Ini sebuah fakta sejarah yang tak seharusnya dengan mudah dibuang dan digilas begitu saja.

Menerawang Peunayong dengan duduk diberanda cafe - cafe kecil seperti bercermin di pelataran Haussmann Boulevard, Paris. Dalam Haussmann wikipidia, dikatakan, bila kita duduk di Peunayong, tak akan kesulitan untuk membayangkan, bagaimana gambaran sudut Haussmann di tahun 1860 sekalipun, karena kita tengah berada dalam bentuk kota yang sama, seperti ketika dimulainya “pertarungan” memilih membangun kota modern vs mempertahankan landmark “kota tua” di tahun 1860 ketika itu.

Bedanya, jika lanskap gedung dan pedestrian di Paris tetap dipertahankan, namun di Pauenayong tahun 2011, deretan cafe - cafe kecil manis itu sudah dicat warna warni modernitas. Inilah yang membuat iri kita pada Paris, pada kegigihan pemerintahnya yang mempertahankan situs agar menjaga marwah sejarahnya. Dan kegamanan akan lebih terasa, ketika kita membuka laman buku sejarah Aceh seperti ditulis Anthony Reid–sejarawan Selandia Baru yang mempertanyakan, misal, bagaimana kita bisa kehilangan landmark kubah masjid Ulee Lheu. Kubahnya yang menandai jamannya, dipangkas dan diubah begitu saja, atau meruntuhkan deretan tokoh di Penayong yang berarsitektur dan beraroma Negeri Cina.

Apa karena dirasa “kuno“atau sekedar alasan untuk “praktis” saja. Jika alasan kedua yang jadi pilihan, alangkah patut diirikan. Padahal sejarah dengan “ikon” bawaannya, adalah sebuah “karunia” yang menjadi sisi pembeda, sekaligus sebagai sebuah lembaran “buku besar” sejarah. Bukankah adagium bilang“one picture more better than 1000 word?”. Tapi itulah potret kita, apalagi Peunayong yang bukan gambar, tapi sebuah realitas.

Peunayong, dalam bayangan nuansa silam yang banyak menyimpan kenangan. Dari namanya saja telah mempesona rasa. Bukan hanya sebagai sematan bagian lingua Aceh, tapi juga mikrokosmos dari nama aktifitas budaya. Dan sejarah Peunayong adalah sebuah paket wisata mempesona. Bukan hanya bisa bermimpi tapi ia lambang “harmonisasi”. Sebuah pilihan menyandingkan tempo doeloe dan masa kini. Peunayong bukan untuk saling menggulong (mengguling), tapi saling menampoeng (menampung). Sejatinya, kita jadikan Peunayong sebagai sebuah landmark, entah itu Peunayong Square, atau Peunayong Sabee Belanja, dan membuat jalan-jalan menjadi “lapak jualan”. Mungkin tak salah, meniru Malioboro, Yogyakarta.

Sekali lagi, mari bercermin pada Paris, atau negeri kincir angin mantan seteru Aceh dulu.. Bagaimana pemerintahnya menata Rotterdam-dengan landmark bangunan tua, memberi sentuhan cat aksesoris baliho mini di jalan, simpel tapi menakjubkan. Kota-kota tua menjadi “hidup”, karena “nafas” masa lalunya tetap dihadirkan. Atau… tak usah jauh-jauh, lihat saja kawasan Marina Sunda Kelapa, yang selalu mempertahankan landmark tua Batavia sehingga menjadi ikon dalam katalog paket “Enjoy Jakarta”.

Peunayong, ruko pecinan yang, ikon sejarah Aceh yang terabaikan. Padahal catatan sejarah tertua mengenai kerajaan-kerajaan di Aceh, didapati dari sumber - sumber tulisan sejarah Cina. Sebut saja catatan sejarah Dinasti Liang tahun 506-556 M yang terungkap dalam buku Zhufanzhi, tersebutlah Lanwuli (Lamuri) di pantai timur Aceh. Dan pada tahun 1282 M, diketahui bahwa raja Samudera Pasai mengirim dua orang (Sulaiman dan Shamsudin) utusan ke negeri Cina. Atau Ying Yai Sheng Lan, Ma Huan dalam pelayarannya bersama Laksamana Cheng Ho, mencatat dengan lengkap mengenai kota-kota di Aceh seperti, A-lu (Aru), sumendala (Samudera), dan Lanwuli (Lamuri). Dalam catatan Dong Xi Yang Kao (penelitian laut-laut timur dan barat) yang dikarang oleh Zhang Xie pada tahun 1618, mencatat secara terperinci mengenai Aceh yang telah modern, dan di Kota Samudera Pasai selain pribumi banyak tinggal komunitas Cina yang dikenal “Kampung Cina”. Jadi, jauh sebelum kerajaan Aceh Darussalam berdiri (abad ke-16), kompung Cina telah berada.

Orang Cina itu ternyata bukan hanya pandai berdagang untuk memajukan Aceh, tapi ikut berperang mengorbankan jiwa. Kita ingat Mayor John Lie bersama pasukannya menerobos blokade Belanda melalui Aceh dengan speed boat yang satunya dikenal speed boat bernama “The Outlaw”, sehingga Aceh tak pernah dikuasai Belanda. Kenapa kita generasi kini tak bisa berkaca dari kisah ini. Toh, Nabi Muhammad saw pernah bersabda ‘tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina’. Kenapa ke Cina? Jawabnya karena di sana ada ketekunan dan keuletan. Terutama dalam perilaku bisnis orang-orang Cina. Mereka memiliki system yang mentradisi apa yang disebut Guangxigiye—berasal dari Guanxi yakni relasi, Giye yakni perusahaan sehingga guangxigiye, maksudnya sebuah kelompok perusahaan yang memiliki sesuatu yang sama. Lewat Guanxi, mampu membangun relasi sehingga menjadi maju.

Orang Cina itu sangat ulet dan tekun juga pandai membangun relasi, tak suka iri, dan tidak suka mengemis. Dan sebenarnya, dalam Islam sendiri ada sabda yang mengingatkan agar kita memeliha diri dan keluarga dari api Negara (kum amfusikumk waahlikumk nara). “Memelihara” sering ditakwilkan dengan usaha melakukan suatu yang baik.

Peunayong adalah gambaran kejayaan pecinan Aceh, lanscap budaya dan tradisi leluhur setelah abad ke-18 Masehi yang mesti dijaga, setelah banyak situs sejarah menjadi punah dalam berbagai tragedi di Aceh.



Sejarah Peunayong

Tiongkok dan Aceh sejatinya memang punya hubungan sejarah yang panjang. Laksamana Chengho atau Zheng He, menurut Pemerhati Budaya Cina, Dr A Rani Usman, bahkan sampai tiga kali datang ke Aceh. Lonceng Cakradonya menjadi buktinya. Chengho menyerahkan lonceng tersebut kepada Kerajaan Pasai yang dipimpin Sultan Zainal Abidin pada 1409. Hadiah ini sebagai bukti persahabatan antara Bangsa Aceh dan Cina.

Kisah pelayaran Laksamana Chengho ini telah melegenda. Dia menorehkan jejak sejarah yang mengagumkan di setiap negara yang dilaluinya. Chengho selama tujuh kali pelayaran selalu berusaha tampil penuh persahabatan. Ini mungkin yang membedakan pelayaran Chengho dengan Columbus. Bangsa barat menjelajahi Samudera untuk tujuan imperialiasme. Tapi, Chengho yang di masa hidupnya diyakini pernah menunaikan ibadah haji itu berusaha tampil penuh persahabatan.

Petualangan antar-benua yang dipimpin Chengho selama 28 tahun (1405 M-1433 M) itu berlangsung dalam tujuh kali pelayaran. Menurut Rosenberg, ahli geografi terkemuka dunia, tak kurang dari 30 negara di benua Asia dan Afrika disinggahi Chengho. “Yang harus diingat, tidak pernah Bangsa Cina memusuhi Islam,” kata Rani Usman yang fasih berbahasa Mandarin ini.

Rani Usman menambahkan, etnis Tionghoa banyak meninggalkan negerinya setelah muhibah besar Chengho. Kapan persisnya etnis Tionghoa memasuki Aceh? “Sejak lancarnya transportasi laut,” kata Rani Usman. Apalagi saat itu Tiongkok sedang dilanda konflik dan kelaparan. Mereka beramai-ramai hijrah ke berbagai negara, salah satunya ke kawasan Ulee Lheue sebagai tempat pelabuhan internasional di masa kesultanan Aceh. Setelah Belanda ‘menundukkan’ Aceh, kaum Cina didatangkan lebih banyak lagi sebagai tenaga kerja terampil.

Sebagai Kota Tua, warisan arsitektur Eropa masih tersisa di kawasan pecinan itu. Sebagian lainnya, seperti Hotel Atjeh, telah hilang ditelan zaman. Peunayong dulunya dihuni oleh beragam etnis, yakni pedagang dari Cina, Persia, dan India. Syukurnya, bangsa yang berbeda budaya dan agama itu bisa hidup berdampingan hingga beratus-ratus tahun lamanya. Mungkin itu sebabnya, kawasan ini diberi nama Peunayong, yang disebut berasal dari kata Peumayong (memayungi).


Sumber: dharaa.blogdetik
acehpedia.org/Peunayong

"Mayor John Lie bersama pasukannya menerobos blokade Belanda melalui Aceh dengan speed boat yang satunya dikenal speed boat bernama “The Outlaw”, sehingga Aceh tak pernah dikuasai Belanda."

49 comments

June 23, 2012 at 9:23 PM

wehh,, keren banget sob,, tampilannya..
artikelnya saya bookmark tuh penting banget.. thanks ya..

June 23, 2012 at 10:08 PM

@yAhyAoke sob, silahkan :D

June 24, 2012 at 1:09 AM

Wah... Komplit banget sob. Jadi tahu nih soal pecinan. Dan yang bikin madjongke suka gambarnya nagus banget. Ngeditnya pake apaan sob.

June 24, 2012 at 1:14 AM

@Madjongkemakasih sobat... ngedit pakai photoshop..hehehehehe

cuma mempertajam color balance dan block blur agar nuansa kabutnya hidup,,hehehehhee

June 24, 2012 at 2:34 AM

Gua kirain pake grid bang :D eh taunya pake css multiple colomn :p

June 24, 2012 at 2:46 AM

@Fahmi Setiawanlebih gampangan pakai multi kolom #sok tau banget ya gw...hahahahaahhaa

June 24, 2012 at 6:45 AM

terima kasih banyak untuk sejarah pecinaannya sobat...

June 24, 2012 at 7:30 AM

kayak grid atau emang grid yeah? keyen. saya belum bisaaaaa :D

June 24, 2012 at 7:46 AM

@Asis Sugiantosama sama sobat :)

June 24, 2012 at 7:46 AM

@Alam Perwirabukan sob,, cuma multi kolom aja,, :D

June 24, 2012 at 9:05 AM

woww seperti majalahh benerann dehh

June 24, 2012 at 10:23 AM

Menambah pengetahuan saya tntang sejarah.
Sejarah memang asyik untuk di ketahui ya sob :D

June 24, 2012 at 10:48 AM

. . wachhhhhhhhh,, jadi belajar sejarah nich. he..86x . .

June 24, 2012 at 1:28 PM

jalan2 lagi nih ke pecinan,, asyik bacanya .. Theatre of mind-nya dapet.

June 24, 2012 at 3:25 PM

@Naturalzine enakan pake grid lahh :D
Efek fixed sama color rgbanya bikin ga nahan :P

June 24, 2012 at 3:53 PM

wahhh.. manteb nih sobat :))

June 24, 2012 at 4:58 PM

Jadi banyak juga yaa jasa tiong howa yang bantu Aceh.. tapi di peunayong banyak yang kristen yaa.. hahahah
panjang amat bro artikelnyaa.. jadi ane bacanya sekilas dulu yaa :)

pokonya salut dah ama laksamana Chengho

June 24, 2012 at 6:39 PM

ajib gan tapi saya kurang konsentrasi dalam membaca postingan ini karena background tulisannya transparan jadi pusing wkwkwk

June 24, 2012 at 6:54 PM

ane buka lwat mobile, artikelnya jadi ga kebaca :( huhu

June 24, 2012 at 7:17 PM

@Ahmad Rizal Samsisesuai konsepnya deh :D

June 24, 2012 at 7:17 PM

@Zevinbener banget sobat, senjata paling tajam, itulah sejarah :D

June 24, 2012 at 7:18 PM

@♥VPie◥♀◤MahaDhifa♥jadi nambah wawasan :D

June 24, 2012 at 7:18 PM

@yAhyAAlhamdulillah sobat :D

June 24, 2012 at 7:18 PM

@Bang Dayatmakasih sobat :D

June 24, 2012 at 7:19 PM

@Kini Aku Taukayaknya banyakan islam sob :D,, soalnya rame china disana sudah jadi mu'alaf :D

June 24, 2012 at 7:20 PM

@BLOGCUNAYZwaaah,, makasih banget sobat saran, segera diperbaiki

June 24, 2012 at 7:20 PM

@Hzndiwaduh,, blog ane gan terlalu katrok kalau dibuka lewat mobile,,hahahahahahhaa

June 25, 2012 at 7:12 AM

ane baru tau tu klo aceh ada singkatannya kaya gitu, ehm, ane belajar banyak tentang aceh di sini juga. dan tentunya tentang pecinan, tenkyu gan.

June 25, 2012 at 7:14 AM

gan, ente lagi daftar saling silang ya.. ehm, ane juga lagi daftar tu. kayanya emang ada masalah sma sananya. soalnya ane ud terverivikasi, begitu ada kata lanjutkan untuk edit blog, eh malah di kirim entah kemana, jadi balik lagi. .. jadinya ga ane pasang dah tu.

bingung soalnya gue gan, saling kabari ya klo ud dapet caranya. ok

June 25, 2012 at 7:27 AM

waduuh,, saya tersesat nii di pecinan.. hee..

June 25, 2012 at 3:32 PM

Wah. Jadinya keren banget. Mirip film cina jaman dahulu

June 25, 2012 at 11:30 PM

Oooooh, ACEH: Arab Cina Eropa Hindi toh.. Just knew this from your blog :D

June 26, 2012 at 12:12 AM

nambah ilmu nih ane disini, makasih sob untuk artikelnya

June 26, 2012 at 9:32 AM

semarak ya kebudayaan di Aceh
btw, tampilan di sini mempesonakan. keren abis!

Aku fikir pakek grid? :D heheheh ternyata pakek multiple column...? :D Saya ndak terlalu tahu tentang pecinan mas.....? :D

June 28, 2012 at 1:26 PM

jadi pngen nulis ttg pecinan di Padang jga ne..
smgaa..hehe
kyk baca koran aja..

June 28, 2012 at 1:51 PM

datang sambil lihat", untuk meramaikan suasana..

June 28, 2012 at 9:16 PM

wahhh, sangat lengkap sekali ulasannya sobat :))

June 29, 2012 at 3:52 AM

Wah. Perlu di coba nih. Sayangnya q gak punya photosop kawan

June 30, 2012 at 11:35 AM

pnjgnya..huhu..sejarah..waah..ACEH - Arab.Cina Eropah Hindi..baru ku tahu ni.tq info.

July 8, 2012 at 11:28 AM

@Novelgurllumayan.. simpanan untuk adik adik nanti :D

July 8, 2012 at 11:30 AM

@cerita anak kostsip deh gan :D

July 11, 2012 at 10:54 AM

Wuiih... Sejarah panjang tentang Asal muasal Pecinan Cina yang luar biasa Bangeet neh Sob!!
Emang Orang Cina itu begitu tekun dan rajin kalo sedang kerja , berbeda banget dengan kaum Pribumi...
Palagi orang cina itu gak gampang iri dan sombong loyal dengan para Pelanggannnya,
Makanya Orang cina itu rata-rata cepet kaya dan terpandang..
Hmm... MANTAAAFFF BANGEEEET!!

#Wuih.. Tampialnnya sekarang lebiH SANGAAAAARR neh!!
Ai Laikit SoMad!!!

^_^

July 11, 2012 at 6:47 PM

wiiiyy panjang bener sejarahnya ya ? memang pecinan di tiap daerah pasti selalu ada sobat ... hehe ... :)

July 12, 2012 at 3:58 AM

Waw! Saya baru tahu kalau aceh menyimpan pecinaan dengan sejarah yang laur biasa. Makin pengen ke aceh :)
Dan baru tau kalau aceh enggak pernah dikuasai belanda :)

July 12, 2012 at 10:07 AM

baru tau ane sejarahnya...

July 12, 2012 at 5:53 PM

@Naturalzineehh kamu ga ngepost kah?
ehh boleh minta link fb.mu? biar kita bercakap2

July 12, 2012 at 8:32 PM

ternyata begitu ya sejarahnya,,,baru tahu saya

July 14, 2012 at 9:00 AM

maaf ya sob... saya baru bisa berkunjung kembali kesini... :D

Post a Comment

2012 ©Copyright and Modified by Naturalzine - Template by : Urangkurai

Viewed On Mozila Firefox 11.0 - Chrome and UPGRADE YOU BROWSER If You Want Read Posts